Pernah dengar ungkapan: “Everybody’s, a critic”?

Saya tersandung dengan ungkapan itu ketika akan me-review sebuah karya dari seorang pencipta muda. Di kalangan para kritisi, karyanya jauh dari sempurna. Para kritisi pun banyak menyuarakan pendapatnya, Ada yang keras to the point langsung dimana letak kesalahan tersebut, dan ada yang lemah lembut membimbing sang pencipta muda tersebut.

Namun, sang pencipta muda, dengan segala idealisme yang ia bentuk di sekelilingnya, tak bergeming dengan semua ‘kritik’ yang dialamatkan kepadanya. Malah ia menulis kembali di sebuah blog pribadinya mengungkapkan perasaan kekecewaan dia yang “menurut dia” tidak ada seorang pun yang memahami isi pikirannya dan menyerang kembali pemikiran para kritisinya.

Para kritisi ini kemudian membahasnya di sebuah lingkungan terbuka dimana mereka biasa berdiskusi. Beberapa kritisi senior menganggap serangan balik ini sebuah hal yang biasa dan menertawai kebodohan sang pencipta muda. Beberapa kritisi yang ‘not so senior’ pun sama. Sisanya? Agree.

Ketika saya melihat hasil karya sang pencipta muda, jujur saya akui, the critics is right. Karya nya boleh saya bilang, jauh dari sempurna. Dan untuk urusan karya si pencipta muda, saya malah bukan orang yang kompeten alih2 ahli untuk hal tersebut. Saya hanya suka me-review apa yang saya ‘rasakan’ dari suatu karya untuk ‘archive’ saya sendiri.

Saya tidak enjoy dengan karya si Pencipta muda, apalagi ketika lebih mengetahui sikapnya dalam menerima kritik. Namun saya pun lebih tidak enjoy dengan apa yang dilakukan para kritisi.

Menertawakan suatu karya, mem-brand-kan personalisasi seseorang, bahkan di forum umum, terbuka dan dapat diakses oleh orang banyak, menurut saya bukanlah sesuatu yang sepatutnya dilakukan.

Sebuah karya, walau buruk atau bagus, tetaplah sebuah karya. When we criticize sebuah karya, apakah kita dapat membuat karya tersebut? Seburuk atau sebagus karya tersebut?

Saya pasti lebih jago dari pelatih Manchester United atau Real Madrid ketika melihat mereka bertanding. Really?

Potret seorang kritisi yang saya kagumi dan pencipta yang saya hormati adalah dua mahluk yang ada di bawah ini:

In the absence of the real criticism in the real world, I found those two in my life, in a movie called Ratatouille. And I respect them a lot.